Senin, 14 April 2014

Melodi Sendiri

Aku adalah sebagian hara alam yang hilang, yang telah banyak menuai air mata. Mungkin aku telah jauh dari kehidupan nyata, yang lama-kelamaan semakin gila. Yang aku lihat saat ini, hanya keeogoisan diri dalam terusiknya malam. Mereka berkata tentang hidupku, mereka juga berkata tentang mimpi-mimpiku. Lalu aku bertanya, apa peran kalian dalam hidupku?. Hingga aku sadari, kalian memang sangat berperan dalam kehidupan ku. Kalian membuat aku kuat berjalan lebih jauh dari biasanya, kalian membuat aku lebih tegar dari tangis yang biasanya. Kalian memang pendorong semua imajinasi ku.
Hari ini ketika mataku menyaksikan nyatanya kemunafikan sendiri, aku makin tak waras. Bagaimana bisa hati lain dengan perbuatan. Kecewa ku mendalam, sulit untuk dimaafkan. Lalu asmara menambah kekecewaanku. Mencuri semua kewarasan ku yang masih tersisa, aku semakin bodoh.
Hanya saja aku masih ingin tetap tegar dalam hal ini. Aku sadar, aku telah dewasa dan aku pantas memiliki cerita tentang asmara. Namun,  bagaimana bisa aku lupa akan kewajiban yang telah aku buat sendiri. Semua mimpi yang telah aku semayamkan dalam hati sekejap luntur begitu saja. Lalu bagaimana cara agar aku bisa memperbaiki semua ketimpangan yag melanda diriku. Apa harus aku menyapu segala memori yang telah membuat sebagian kewarasanku hilang, mungkin.
Dunia, ketika aku menyadari bahwa ada banyak keburukan yang menyelimuti tidur panjangmu, aku tercengang dengan air muka terheran-heran. Karena aku juga mengerti akan sulit menghilangkan noda-noda tersebut yang telah lengket tak terpisahkan. Akupun sibuk dengan dunia yang sampai hari ini terus merapuh, kesadaran manusia luruh. Semua telah berubah duniaku.

Dan sampai hari ini pun aku terus mencoba, bagaimana aku bisa memperbaiki diri agar aku juga dapat menyelamatkan orang lain dari kekeliruan. Namun, jika diri masih diselimuti  keegoisan seperti ini, apa bisa?. Selama aku hidup, aku tak banyak mendapat bahagia selain tawa dan lelucon dari orang yang tak berikatan darah denganku. Dan, apa aku mendapatkan bahagia dari sedarah ku, ya . . tapi tidak sebanyak yang aku dapatkan dari mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar