Sabtu, 26 April 2014

ceruk kehidupan

      Teman hidup kita tidak hanya satu, tidak hanya ketika dirumah ataupun disekolah. Tapi seluruhnya, seluruhnya yang membuat kita merasa punya segalanya. Meski terkadang tidak seperti yang diharapkan. Dan memang begitulah hidup, dibawah, diatas terkadang ditengah-tengah. Meski kita tidak punya segalanya, meteri terutama, namun satu dari mereka lebih berharga dari pada seribu harta yang mengalung dileher kita.         Inilah hidup yang mau tak mau harus kita kadali, agar kita sendiri tidak kalah dengan perangkap yang mereka pasang. Sangat konyol memang, jika kita harus mengalahkan keegoisan diri sendiri. Bukankah diri sendiri yang lebih tau tentang semua itu. Oh Tuhan.. kau menghadapkan kami pada ceruk kehidupan yang tak pernah kosong oleh lambaian tangan perpisahan.

      Ada yang harus menderita dengan kondisi batinnya, ada yang melarat oleh materinya, ada pula yang egois dengan ketangguhan pangkatnya. Dunia,,, inikah bait-bait puisi terindah dalam jalan hidup manusia. ketika salju turun ditengah musim panas, saat musim panas menyejukkan dimusim salju. Ah... mustahil bukan? Tapi apalah semua itu ditangan tuhan? Semua bisa dibuat dan ditangguhkan.
      Lalu, bukankah kita sendiri yang menjamah ketenangan bumi ini. Yang ketika itu tertidur tenang tanpa bisikkan apapun, dan tangan kita merayunya untuk bangun, bangun lebih awal!.
      Lalu memaksa lagi untuk membangkitkannya saat ia masih lesu, dan lagi, menggugahnya untuk kesekian kalinya saat ia malas bangun. Ah,,, manusia terlalu banyak tingkahmu, terlalu sedikit jasa baikmu. Mustahilkah jika kami meminta mu untuk tidur kembali, tidur lebih tenang dan damai. Salahkah kami meminta itu? Bukankah segelintir dari kami berusaha untuk menenangkanmu, berbahagialah dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar