Teman hidup kita tidak hanya satu, tidak hanya ketika dirumah ataupun disekolah. Tapi seluruhnya, seluruhnya yang membuat kita merasa punya segalanya. Meski terkadang tidak seperti yang diharapkan. Dan memang begitulah hidup, dibawah, diatas terkadang ditengah-tengah. Meski kita tidak punya segalanya, meteri terutama, namun satu dari mereka lebih berharga dari pada seribu harta yang mengalung dileher kita. Inilah hidup yang mau tak mau harus kita kadali, agar kita sendiri tidak kalah dengan perangkap yang mereka pasang. Sangat konyol memang, jika kita harus mengalahkan keegoisan diri sendiri. Bukankah diri sendiri yang lebih tau tentang semua itu. Oh Tuhan.. kau menghadapkan kami pada ceruk kehidupan yang tak pernah kosong oleh lambaian tangan perpisahan.
Sabtu, 26 April 2014
Kamis, 24 April 2014
Nurani ku
Hari ini, ketika aku mulai menyentuh sebagian hara dalam hidupku yang mulai hilang. Saat itu aku tidak pernah paham, mengapa orang lain terasa begitu sempurna dari diri sendiri. Seseorang yang terlihat begitu angkuh dengan kedudukannya. Berdiri diantara tiang-tiang tinggi nan megah. Sosok pahlawan sekarang!
Lalu sekarang, aku belum juga mengetahui pedalaman tentang diriku sendiri. Aku gerayanggi semua yang sekiranya janggal. Namun tidak aku temui, dimanakah yang salah, harus seperti apakah?. Sekirannya bosan telah membidik lebih dulu dari pada diriku sendiri. Mungkin harus diriku pelajari bagaiman mengalahkan nafsu yang menghalanggi nurani.
Boleh jadi ketika aku tumbuh lebih mengerti dari pada ini, mungkin akan lebih mudah juga diriku untuk membobol ke-kuperan diri. Karena hari ini, jiwa ku sendiri mulai memprotes, mengaung, lebih keras dan keras.
Lalu sekarang, aku belum juga mengetahui pedalaman tentang diriku sendiri. Aku gerayanggi semua yang sekiranya janggal. Namun tidak aku temui, dimanakah yang salah, harus seperti apakah?. Sekirannya bosan telah membidik lebih dulu dari pada diriku sendiri. Mungkin harus diriku pelajari bagaiman mengalahkan nafsu yang menghalanggi nurani.
Boleh jadi ketika aku tumbuh lebih mengerti dari pada ini, mungkin akan lebih mudah juga diriku untuk membobol ke-kuperan diri. Karena hari ini, jiwa ku sendiri mulai memprotes, mengaung, lebih keras dan keras.
Sabtu, 19 April 2014
Sejarah
Kalaupun lagu bisa menghibur senduh dihati itu adalah lagu merdeka 68 tahun silam. Ketika aliran darah menjadi bumbu sedap sedangkan tangisan menjadi penikmatnya. Keringat asin berubah menjadi perasa alami yang sulit ditemukan di masa sekarang. Mereka yang menjadi saksi juga telah tiada, yang berdarah pun rasanya telah lenyap, jejak mereka telah hilang bau darah mereka pun tidak lagi tercium.
Namun sejarah melukiskan semua jejak itu,jejak yang tertanggal rapi dalam ingatan. Siapa mungkin yang bisa menghapuskan, kala rumah yang dihuni sekarang adalah hasil jual beli berdarah para pejuang.
Namun sejarah melukiskan semua jejak itu,jejak yang tertanggal rapi dalam ingatan. Siapa mungkin yang bisa menghapuskan, kala rumah yang dihuni sekarang adalah hasil jual beli berdarah para pejuang.
miska
poetry
Jika sudah bicara tentang cinta, apa yang harusnya masuk akal sudah tidak lagi masuk akal. Semua menjadi tabuh, tapi tetap saja bermakna. Bukan lagi sebagian orang yang merasakannya, tapi hampir seluruhnya. Bicara tentang hati tidak akan ada habisnya, dan cenderung terlalu rumit untuk dipecahkan. Tentang perasaan, hati, juga pikiran seluruhnya terfokus pada hal yang namanya cinta.
Ketika fitrah tersebut harus terkekang oleh banyaknya perbedaan, hatilah yang berperan dalam mengambil semua keputusan. Untuk memutuskan atau meneruskan dengan penuh paksaan untuk saling mencocokkan. Padahal, belum tentu dengan memaksa agar dapat memperbaiki hubungan semua akan menjadi baik kembali. Yang ada malah keegoisan menghiasi perbedaan tersebut.
Semakin dewasa harusnya kita mampu memilah mana yang baik ataupun mana yang tidak, tapi sebaliknya semakin kita dewasa kita semakin tidak mengerti bagaiman cara menyelesaikan persoalan dalam percintaan. Dan itu normal. Cinta, adalah hal yang paling mistis dalam dunia ini yang tidak akan ada titik temunya. Karena itu, yang kita butuhkan adalah memahami saja.
Memang sangat memilukan jika harus mengalami kegagalan dalam hal asmara. Dan tidak sedikit hal tersebut membuat kebanyakan wanita hancur hingga bunuh diri, tidak sedikit pula laki-laki yang stress karena gagal nikah atau ditinggal nikah. Jadi, cinta itu memang memilukan. Tidak pandang usia atau pun status sosial, semua pernah mengalami kegagalan dan hancur karenanya.
Lalu, apa kita sadar cinta yang sebenarnya abadi itu ?. cinta pada Allah, ya. . betapa bahagia dan tenangnya jika kita menanam rasa cinta tersebut untuk tuhan kita. Apalagi jika kita sadari seemua yang kita pakai, kita rasakan dan kita sentuh. Semua karena nikmat darinya. Sempurnanya rohani kita, cerdas nya akal pikiran kita, semuanya.
Jika harus memilih secara tidak sadar dunia telah membuat kita lupa padanya. Persoalan hidup yang semakin mewah semakin menambah ketidaksadaran kita akan semua takdir di balik itu. Jikalau manusia mengerti bagaimana saling menyeimbangkan kehidupan, baik untuk tuhannya atau kehidupan pribadinya mungkinkah azab masih ada untuk kehidupan akhir nanti.
Jika sudah bicara tentang cinta, apa yang harusnya masuk akal sudah tidak lagi masuk akal. Semua menjadi tabuh, tapi tetap saja bermakna. Bukan lagi sebagian orang yang merasakannya, tapi hampir seluruhnya. Bicara tentang hati tidak akan ada habisnya, dan cenderung terlalu rumit untuk dipecahkan. Tentang perasaan, hati, juga pikiran seluruhnya terfokus pada hal yang namanya cinta.
Ketika fitrah tersebut harus terkekang oleh banyaknya perbedaan, hatilah yang berperan dalam mengambil semua keputusan. Untuk memutuskan atau meneruskan dengan penuh paksaan untuk saling mencocokkan. Padahal, belum tentu dengan memaksa agar dapat memperbaiki hubungan semua akan menjadi baik kembali. Yang ada malah keegoisan menghiasi perbedaan tersebut.
Semakin dewasa harusnya kita mampu memilah mana yang baik ataupun mana yang tidak, tapi sebaliknya semakin kita dewasa kita semakin tidak mengerti bagaiman cara menyelesaikan persoalan dalam percintaan. Dan itu normal. Cinta, adalah hal yang paling mistis dalam dunia ini yang tidak akan ada titik temunya. Karena itu, yang kita butuhkan adalah memahami saja.
Memang sangat memilukan jika harus mengalami kegagalan dalam hal asmara. Dan tidak sedikit hal tersebut membuat kebanyakan wanita hancur hingga bunuh diri, tidak sedikit pula laki-laki yang stress karena gagal nikah atau ditinggal nikah. Jadi, cinta itu memang memilukan. Tidak pandang usia atau pun status sosial, semua pernah mengalami kegagalan dan hancur karenanya.
Lalu, apa kita sadar cinta yang sebenarnya abadi itu ?. cinta pada Allah, ya. . betapa bahagia dan tenangnya jika kita menanam rasa cinta tersebut untuk tuhan kita. Apalagi jika kita sadari seemua yang kita pakai, kita rasakan dan kita sentuh. Semua karena nikmat darinya. Sempurnanya rohani kita, cerdas nya akal pikiran kita, semuanya.
Jika harus memilih secara tidak sadar dunia telah membuat kita lupa padanya. Persoalan hidup yang semakin mewah semakin menambah ketidaksadaran kita akan semua takdir di balik itu. Jikalau manusia mengerti bagaimana saling menyeimbangkan kehidupan, baik untuk tuhannya atau kehidupan pribadinya mungkinkah azab masih ada untuk kehidupan akhir nanti.
Rabu, 16 April 2014
Terbaik untuk jujur
Katakan
kepada siapapun yang bertanya tentang kebahagiaan mu, bagaimana kamu
mengapainya lalu jatuh tersungkur hingga berdarah-darah. Dunia memanggilmu
dengan semangat juang yang lebih dahsyat, lalu membisikkan kepadamu sebuah bait
puisi tentang kebahagiaan. Mungkin lama tidak kau sadari, ketika beribu burung
terbang membawa pesan singkat untuk kau baca. Tapi sedikitpun kau tak memahami
itu, tidak sedikitpun dapat kau tangkap pesan itu.
Kau
pun tersesat dalam bahagia yang menyesakkan dada, andai kau tak memilih untuk
bungkam lalu bicara. Ada hal lain yang akan kau dapatkan, entah itu pelipur
lara atau pengobat rindu. Karena tidak selamanya hidup hanya sendiri, mungkin
saja burung yang telah terbang bisa membantu mu untuk menyeka luka yang
mengucur deras dalam dada. Ya, apakah kau mampu sendiri dalam liku kehidupan
dunia.
Senin, 14 April 2014
Melodi Sendiri
Aku
adalah sebagian hara alam yang hilang, yang telah banyak menuai air mata.
Mungkin aku telah jauh dari kehidupan nyata, yang lama-kelamaan semakin gila.
Yang aku lihat saat ini, hanya keeogoisan diri dalam terusiknya malam. Mereka
berkata tentang hidupku, mereka juga berkata tentang mimpi-mimpiku. Lalu aku
bertanya, apa peran kalian dalam hidupku?. Hingga aku sadari, kalian memang
sangat berperan dalam kehidupan ku. Kalian membuat aku kuat berjalan lebih jauh
dari biasanya, kalian membuat aku lebih tegar dari tangis yang biasanya. Kalian
memang pendorong semua imajinasi ku.
Hari
ini ketika mataku menyaksikan nyatanya kemunafikan sendiri, aku makin tak
waras. Bagaimana bisa hati lain dengan perbuatan. Kecewa ku mendalam, sulit
untuk dimaafkan. Lalu asmara menambah kekecewaanku. Mencuri semua kewarasan ku
yang masih tersisa, aku semakin bodoh.
Hanya
saja aku masih ingin tetap tegar dalam hal ini. Aku sadar, aku telah dewasa dan
aku pantas memiliki cerita tentang asmara. Namun, bagaimana bisa aku lupa akan kewajiban yang
telah aku buat sendiri. Semua mimpi yang telah aku semayamkan dalam hati
sekejap luntur begitu saja. Lalu bagaimana cara agar aku bisa memperbaiki semua
ketimpangan yag melanda diriku. Apa harus aku menyapu segala memori yang telah
membuat sebagian kewarasanku hilang, mungkin.
Dunia,
ketika aku menyadari bahwa ada banyak keburukan yang menyelimuti tidur
panjangmu, aku tercengang dengan air muka terheran-heran. Karena aku juga
mengerti akan sulit menghilangkan noda-noda tersebut yang telah lengket tak
terpisahkan. Akupun sibuk dengan dunia yang sampai hari ini terus merapuh,
kesadaran manusia luruh. Semua telah berubah duniaku.
Dan
sampai hari ini pun aku terus mencoba, bagaimana aku bisa memperbaiki diri agar
aku juga dapat menyelamatkan orang lain dari kekeliruan. Namun, jika diri masih
diselimuti keegoisan seperti ini, apa
bisa?. Selama aku hidup, aku tak banyak mendapat bahagia selain tawa dan
lelucon dari orang yang tak berikatan darah denganku. Dan, apa aku mendapatkan
bahagia dari sedarah ku, ya . . tapi tidak sebanyak yang aku dapatkan dari
mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)