Selasa, 13 Mei 2014

Usia Nambah

Hari terus berganti, bulan menjemput dan tahun mengiringgi. Usia manusia siapa yang tahu, dengan segala keterbatasannya dan kelebihannya. Manusia tidak akan ingkar dengan kodratnya sebagai umat. menyembah yang dijadikan sesembahnya, melakukan amalan yang menjadi fardhu serta kebiasaan. Semua umat pantas tunduk, dengan segala perintah, kewajiban dan amalan tadi. Dan selama ini, terlaksanakah itu semua?.     Hari ku, enam mei sembilan puluh lima, seorang bayi suci dengan jenis kelamin perempuan telah gugur ditengah-tengah bumi semesta. Jeritannya tidak membawa bahagia, namun terlanjur terlahirkan, anak itu diterima dengan baik oleh orang tuanya. Kemudian dua tahun kelahirannya, sebuah hadiah dari sang kuasa menimpahnya dan kepada keluarganya pula.

     Belum sempat dikenalinya seorang bapak kandung, dia telah bersapa duka dan meninggalkan bayangan yang terlalu kontras. Dalam dewasa, anak itu mencoba memfokuskan bayangan laki-laki yang tengah tergolek tak berdaya diatas dipan. Dibayangkannya lagi namun sama sekali tidak menemukan gambaran. Air matanya pun bercucuran, menahan duka. Seolah-olah meraung kesepian dalam dunia nyatanya yang ramai. Dia dewasa, tumbuh dikeluarga yang tidak lengkap. Tidak ada yang beda sama sekali, anak itu tetap tumbuh dengan keceriaan yang tidak tertandingi. Mungkin dia telah lupa hidupnya tidak lagi sempurna, mungkin juga dia pura-pura untuk menghibur hati yang tengah kesepian.
     Itulah dia, diriku sendiri. Aku yang juga gemar menangis, sedih, dan terkadang kesepian yang mendalam. Namun disaat aku berada ditengah kawan-kawan, inilah diriku, yang selalu tersenyum, yang terlihat paling crewet, jail dan semuanya. Aku tidak pernah tau apakah itu bentuk protesku, atau penghibur lara hati.
     Aku juga hidup dengn keterbatasan ekonomi, semua itu membawaku sulit merasakn mudahnya masuk dan daftar sekolah. Untuk daftar, aku harus mengemis dulu kepada saudara ku yang sekirannya mau menanggung biaya nantinya. Aku menangis lagi. Sampai SMA pun begitu. Dan sekarang tidak terasa bagaimana aku bisa sampai disini, di Uiversitas Truno Joyo Madura. Bagiku, aku sendiri hebat, tidak untuk orang lain. Perjuangaku, tetesan keringatku, air mataku, doaku, semuanya telah memudakan aku. Dan itupun tak luput dari orang-orang kiriman tuhan. Orang-orang yang mendukung ku, membantuku, mereka terlalu berharga dengan segala keistimewaannya. Dan kemurahan tuhan sendiri.
    Sungguh aku tidak akan bisa membalas. Sekarang aku menatap masa depan, didepan sana, ada mimpi ku yang terlalu penting untuk aku lupakan. Selamat atas diri yang mudah-mudahan semakin matang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar